Asyiknya Menjelajah Medan Di Antara Pesta Durian Dan “Musim Kawin”…


MEDAN, KOMPAS.com- 
Di Sumatera Utara, Medan memegang beberapa peranan penting. Selain dikenal sebagai tujuan wisata, kota ini juga dikenal sebagai kota transit.

Medan memang menjadi pintu gerbang penting menuju sejumlah daerah lainnya di provinsi tersebut, seperti ke Pulau Nias, Samosir, dan Tanah Karo. Wajar saja seandainya kota ini tidak pernah sepi.

Sebagai kota metropolitan terbesar ketiga di Indonesia—setelah Jakarta dan Surabaya, Medan juga kerap didatangi tamu buat kunjungan bisnis.  Beberapa tahun belakangan, Dinas Pariwisata Medan akan fokus mengembangkan pasar 
Meeting, Incentive, Convention, dan Exhibition (MICE).

Sejak itulah, kota yg terkenal multietnis tersebut menjadi laiknya etalase Sumatera Utara. Di hotel-hotelnya budaya lokal akan kain tenun ulos hingga irama musik khas daerah begitu mendominasi.
KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN MOZES Suasana di pelataran Masjid Raya Agung Medan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, wisatawan mancanegara pada Juni 2016 yg tiba ke kota ini mencapai 15.084 orang. Sementara itu, wisatawan nusantara pada 2015 tercatat berjumlah 1.268.445 orang.

Biasanya, jumlah kunjungan semakin meningkat ketika musim libur tiba, terutama pada akhir tahun. Beruntung, daya hidup dan kreativitas warga Medan juga telah menjadi unsur penggerak kota.

Sebagai informasi, obyek wisata kota ketika ini lebih banyak dikelola perorangan atau yayasan. Salah sesuatu contohnya adalah Istana Maimoon yg dikelola Yayasan Al Mahsum.

Kunjungan wisatawan ke tempat itu dapat mencapai 500 orang per hari. Bahkan, jumlahnya dapat berlipat hingga 1.000 orang pada akhir pekan.


Upaya pengelola bagi membuat museum itu menjadi magnet wisata ternyata memang cukup menarik. Di dalam istana seluas 2.772 meter persegi itu pengunjung mampu bersolek ala bangsawan Melayu.

Tersedia baju dan aksesori buat disewa.  Para pengunjung bisa berfoto diri mengenakan pakaian para bangsawan itu.

KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN MOZES Gedung London Sumatera.

Lalu, ada juga Gedung London Sumatera, Tjong A Fie Mansion—kediaman saudagar besar di Medandan Rahmat International Wildlife Museum and Gallery yg menyimpan ribuan hewan sudah diawetkan. Dua tempat ini dibuka buat umum sekalipun punya pribadi.


Kreativitas seperti itu yg akhirnya membuat roda ekonomi di Medan pun berputar dan selalu meningkat.

Pesta durian dan “musim kawin”

Saat bertandang ke Medan pada medio Agustus 2016, Kompas.com mendapati ada “musim” yg yang lain di kota ini dibandingkan tempat lain. Di tiap sudut kelihatan penjual durian.

Pesta durian sedang puncak-puncaknya. Pada kurun Juni sampai November, buah eksotis berkulit duri dan berbau harum itu sedang panen di kawasan ini.

Bila tidak ingin ketinggalan “musim” durian, pengunjung dapat menyempatkan mampir di salah sesuatu warung durian terpopuler kota itu, “Ucok Durian”. Kedai yg buka 24 jam ini bukan main ramainya.

Kompas Video Manis Pahit Durian Ucok Medan

Zainal Abidin atau karib dipanggil Ucok, sang pemilik kedai, mulai ramah melayani pengunjung.  
 

“Kalau di sini, makan durian boleh pilih. Lalu, boleh ditukar kalau tak sesuai selera,” ujar Ucok ketika disambangi, Kamis (25/8/2016).

Pilihan durian di Medan, lanjut Ucok, ada beberapa macam. Manis legit dan pahit.

Tapi, rasa pahit yg dimaksud Ucok bukan karena buah itu belum matang. Ini justeru khasnya, merupakan ada sedikit cita rasa getir dan bau menyengat yg mewarnai manis durian asli Medan.

Rupanya, pahit rasa durian berarti kandungan alkoholnya lebih terasa.

Sambil menyusuri seluk beluk kota Medan, wistawan dapat melihat gairah yg baru di setiap sudut kota ini. Apa lagi kalau bukan kedai kopi dan restoran?


Selain itu, wisatawan mulai tercengang pula dengan iklan-iklan pada banyak baliho yg menghiasi sisi jalan. Beberapa yg tertempel di sekitar gerbang-gerbang hotel berisi keterangan mengenai paket pernikahan.

Rupanya, akhir tahun yaitu musim kawin di sini. Di antara hotel-hotel yg kerap menjadi lokasi pernikahan adalah Santika Premiere Dyandra & Conventon Center (SDCC) adalah salah satunya.

Bahkan, tempat langganan menginap wisatawan ini juga menawarkan paket buat calon pengantin yg mulai melangsungkan pernikahan hingga 2017.


Pangsa pasar pernikahan di hotel disebut cukup meningkat signifikan setahun belakangan di Medan. Karena itulah, banyak hotel termasuk Santika Premire Dyandra gencar menggaetnya.

Dalam penawaran itu, paket yg disediakan SDCC ada dua, yakni pernikahan ala Indonesia dan oriental, dengan kapasitasconvention hingga 3.000 orang.
 
Untuk pilihan khas oriental, calon pengantin mulai mendapatkan ruang khusus tambahan yg mampu dipakai seremoni Phang Tea buat 30 orang.
Dokumentasi Santika Premiere Dyandra Medan Tatanan ruang dan meja buat Oriental Wedding.

“Periode booking berlaku hingga Maret 2017,” ujar Director of Sales SDCC, Juliaty Hidayat.

 
Kata Juliaty, paket pernikahan itu ditawarkan akan harga Rp 85 juta bagi Indonesian Wedding dan Rp 1,9 juta per meja untuk oriental wedding.

Bahkan, calon pengantin dapat mendapat banyak bonus bila memesan pada periode 2016 dengan pilihan paket pernikahan Indonesia.

“Mereka  akan mendapat gratis beberapa pondokan (stall) kambing guling yg nilainya setara Rp 10 juta,” ujar Senior Sales Manager, Yohanes Junaidi.

Selain itu, kata Yohanes, pasangan pengantin boleh juga memilih benefit lain, misalnya 100 porsi stall dan free sesuatu kamar pengantin.

Harga paket dengan banyak tambahan bonus itu akan dari Rp 195 juta.

Adapun buat Anda yg “sekadar” menginap bagi berwisata keluarga atau perjalanan bisnis, layanan hotel ini tetap layak dilirik sebagai pilihan.

Kamar dengan pemandangan pusat Kota Medan, misalnya, jadi daya tarik tersendiri, terutama pada malam hari. Fasilitas yg tersedia juga lengkap, akan kolam renang hingga tempat bersantai bagi menikmati cerutu dan anggur.

 
Masih bagi bersantai, di lobi hotel ini ada live music setiap Senin sampai Jumat. Piano jadi suguhan tetap. Musik pendampingnya bervariasi, salah satunya biola. Suguhan ini dapat dinikmati di lobi yg luas dengan sofa nyaman berkelas.
 
Seusai sibuk menghadiri rangkaian acara “musim kawin” atau pesta durian, nyaman sekali bukan bila mampu dibuai sambutan musik mengalun mendayu-dayu….

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/09/29/230300027/asyiknya.menjelajah.medan.di.antara.pesta.durian.dan.musim.kawin.

Leave a Reply