Bareskrim: Mantan Santri Yang Dibunuh Adalah Saksi Kunci Kasus Penipuan Dimas Kanjeng

JAKARTA, KOMPAS.com — Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Pol Agus Andrianto mengatakan, penyidik sudah memeriksa sejumlah saksi dalam masalah dugaan penipuan yg dikerjakan pemilik padepokan di Probolinggo, Dimas Kanjeng Taat Pribadi.

Selain memeriksa M Ainul Yaqin selaku pelapor, polisi juga memeriksa dua warga Probolinggo yang lain yg diduga mengetahui modus Dimas Kanjeng.

Menurut Agus, sebetulnya ada saksi kunci dalam masalah ini, merupakan mantan anak didik Dimas Kanjeng bernama Abdul Ghani. Namun, dia ternyata tewas dibunuh saat proses penyelidikan.

“Saksi kunci kita ini dipanggil dua kali enggak pernah datang. Kami tanya orang di Probolinggo, ternyata saksi itu meninggal dunia,” kata Agus ketika dihubungi, Rabu (28/9/2016).

Agus mengatakan, dari pengakuan saksi yg diperiksa, diketahui bahwa modus Dimas Kanjeng penipuan seperti multilevel marketing.

(Baca: Bareskrim Usut Laporan Penipuan Dimas Kanjeng Rp 25 Miliar)

Selain harus menyetor uang, korbannya juga harus merekrut orang yang lain agar penggandaan uang yg dijanjikan itu dapat terwujud. Peran Abdul Ghani di sini adalah sebagai pengepul uang-uang tersebut.

“Uang itu disetorkan melalui Abdul Ghani. Dialah sejak 2007 hingga 2015 yg menyerahkan secara bertahap uangnya kepada Kanjeng itu,” kata Agus.

Agus mengatakan, Abdul Gani yaitu orang dekat Dimas Kanjeng. Hal ini kelihatan dari perannya sebagai perantara antara korban dan pimpinan padepokan itu.

 

(Baca: Dimas Kanjeng Diduga Bunuh Santri karena Khawatir Kejahatannya Dibongkar)

Namun, belakangan, Abdul Ghani sadar perbuatannya menyimpang dan takut dimintai pertanggungjawaban secara hukum.

“Yang bersangkutan menolong orang yg pernah menyetor melalui dia melaporkan kepada polisi, dan saksinya adalah Si Abdul Ghani yg dibunuh,” kata Agus.

Laporan tersebut diterima Bareskrim Polri pada 20 Februari 2016. Sementara itu, Abdul Ghani ditemukan tewas pada 14 April 2016.

Ainul selaku pelapor merasa jadi korban penipuan Dimas Kanjeng dengan kerugian Rp 25 miliar.

 

(Baca: Alasan di Balik 2.000 Personel Polri buat Tangkap Dimas Kanjeng Taat Pribadi)

Adapun modus Dimas Kanjeng adalah memberikan sesuatu kotak berisi baju, cincin yg disebut mampu berubah jadi emas, dan janji uang yg jumlahnya lebih banyak lagi kepada korban setelah mereka menyetor uang.

Hal-hal tersebut diberikan yang berasal korban ikhlas dan meyakini apa yg dijanjikan Dimas Kanjeng.

“Ini kan susah membuktikannya. Namun, setelah sadar menjadi korban penipuan, mereka lapor,” kata Agus.

Saat ini, Bareskrim Polri berkoordinasi dengan Polda Jawa Timur dalam penanganan perkara Dimas Kanjeng.

Pasalnya, minggu lalu, dia ditangkap kepolisian setempat karena diduga sebagai dalang pembunuhan beberapa mantan anak didiknya.

Saat ini, Dimas Kanjeng masih diperiksa oleh Polda Jawa Timur buat perkara tersebut. Sementara itu, Bareskrim Polri menangani dugaan penipuannya.

Kompas TV Terlibat Padepokan Dimas Kanjeng, Siapa Marwah Daud Itu?

Sumber:

http://nasional.kompas.com/read/2016/09/28/11004381/bareskrim.mantan.santri.yang.dibunuh.adalah.saksi.kunci.kasus.penipuan.dimas.kanjeng

Leave a Reply