Bergelantungan Di Antara Dua Puncak Gunung Parang, Seru!

PURWAKARTA, KOMPAS.com – Tyrolean traverse, begitu istilahnya, yaitu metode yg digunakan buat menyeberangi sesuatu titik tinggi ke titik tinggi lainnya. Menggunakan seutas tali, tyrolean traverse biasa dikerjakan ketika memanjat tebing atau mendaki gunung dengan lanskap yg cukup ekstrem.

Biasanya tyrolean traverse dilakukan oleh para profesional. Namun di Gunung Parang, Purwakarta, Anda dapat mencobanya bahkan sambil bersantai di hammock yang bertengger di tengah-tengah tali.

Tyrolean di sini dapat bagi siapa saja, tidak mesti profesional,” tutur penggagas Badega Gunung Parang, Dhani Daelami kepada KompasTravel.

Badega Gunung Parang adalah komunitas sekaligus operator wisata berbasis lokal yg melayani tyrolean dan via ferrata. Keduanya dibuat agar mampu dinikmati oleh seluruh kalangan, baik pria maupun wanita, dari berbagai rentang usia.

BACA JUGA: “Via Ferrata”, dari Italia Sampai ke Gunung Parang

Perjalanan dimulai dari kaki Gunung Parang. Anda mulai dibawa trekking dengan medan yg cukup ekstrem. Di dua titik, tingkat kemiringannya mampu mencapai 60 derajat. Trekking dilakukan sekitar tiga jam hingga mencapai Puncak Tower 1 Gunung Parang.

Dari sini, Badega Gunung Parang mulai menyiapkan semua perlengkapan bagi tyrolean. Tali dibentangkan dari Puncak Tower 1 menuju Puncak Tower 2. 

KOMPAS.COM Menggunakan seutas tali, tyrolean traverse biasa dikerjakan ketika memanjat tebing atau mendaki gunung dengan lanskap yg cukup ekstrem.

Dari Puncak Tower 1, Anda mulai dipasangkan dua perlengkapan keselamatan. Titik bagi menyeberang berlokasi di bawah puncak, sehingga Anda harus menuruni dinding Tower 1 sejauh 20 meter memakai tali dan tangga besi.

Sampai di Stasiun Tambatan Tower 1, inilah waktunya Anda menyeberang. Tali yg digunakan tidak sembarangan, yaitu lintasan kawat baja yg membentang sepanjang 60 meter. Anda tidak perlu meniti tali, karena tim dari Badega Gunung Parang mulai menarik Anda sampai ke Stasiun Tambatan Tower 2.

Dari Puncak Tower 2, Anda mampu menikmati pemandangan Danau Jatiluhur yg membentang luas. Lanskap Kota Purwakarta pun kelihatan jelas dari sini. 

Tyrolean ini juga tertinggi di Indonesia. Anda bergelantungan di ketinggian 850 meter,” tambah Dhani.

Tertinggi dalam hal ini dihitung dari jarak antara tali tyrolean sampai dasar jurang, alias permukaan tanah. Tyrolean juga biasa dikerjakan di Carstensz Pyramid, dengan ketinggian sekitar 4.000 mdpl. Namun, jarak antara tali dan jurang di bawahnya tak sejauh tyrolean Gunung Parang.

Menyeberangi beberapa puncak Gunung Parang belum lengkap tanpa bersantai di hammock yang dibentangkan di bagian tengah tali. Dua orang petugas sigap membentangkan hammock, dan tentunya memasang dua pengaman sebelum diduduki wisatawan.

KOMPAS.COM Menyeberangi beberapa puncak Gunung Parang belum lengkap tanpa bersantai di hammock yg dibentangkan di bagian tengah tali. Dua orang petugas sigap membentangkan hammock, dan tentunya memasang dua pengaman sebelum diduduki wisatawan.

Waktu KompasTravel mencoba tyrolean traverse di Gunung Parang, hammock siap sesaat sebelum matahari terbenam. Kabut akan turun, semburat sinar matahari senja kelihatan jelas. Bersantai di hammock sambil menikmati senja di puncak Gunung Parang, rasanya tidak ada dua.

Usai coba tyrolean, Anda mulai kembali trekking menuruni Gunung Parang dengan jalur yg sama. Namun Badega Gunung Parang menyediakan fasilitas kemping seandainya Anda ingin bermalam di bawah gugusan bintang.

Dengan harga Rp 575.000 per orang, Anda mulai mendapatkan peralatan lengkap beserta guide, tenda dan matras, minuman (kopi/teh/jahe), dan makan sebanyak beberapa kali (kedatangan dan kepulangan).

Untuk tyrolean dalam sesuatu hari, Anda harus berangkat pukul 07.00 WIB. Namun seandainya ingin menginap di puncak, Anda dapat berangkat pukul 14.00 WIB.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/10/28/160900827/bergelantungan.di.antara.dua.puncak.gunung.parang.seru.

Leave a Reply