Cerita Penyidik KPK Saat Mengintai Hingga Tangkap Irman Gusman

JAKARTA, KOMPAS.com – Komisi Pemberantasan Korupsi menghadirkan penyidik bernama Ardian sebagai saksi dalam sidang praperadilan yg diajukan tersangka Irman Gusman.

Ia yaitu penyidik yg menangani segera masalah mantan Ketua Dewan Perwakilan Daerah RI tersebut.

Dalam kesaksiannya, Ardian mengaku telah mengintai rumah Irman pada 16 September 2016 sejak pukul 20.00 WIB.

“Saat itu masih di luar rumah, mengintai. Tidak masuk,” ujar Ardian ketika bersaksi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (28/10/2016).

(baca: Di Sidang Praperadilan, Istri Irman Gusman Sebut Penyelidik KPK Tidak Sopan)

Tim penyelidik yg beroperasi pada malam itu, telah mengantongi sejumlah keterangan berupa komunikasi antara Irman dengan Direktur CV Semesta Berjaya Xaveriandy Sutanto dan istrinya, Memi.

Sekitar pukul 23.00 WIB, masuk sebuah mobil yg ditumpangi Xaveriandy dan Memi.

Tak cuma mereka berdua, dalam mobil itu juga ada anak mereka dan adik Xaveriandy bernama Willy Sutanto.

(baca: KPK Bantah Jebak Irman Gusman)

Ardian kemudian melihat Memi masuk terlebih dulu ke rumah, disusul Xaveriandy.

Kemudian, ketika lewat dini hari, baru tim penyelidik yg terdiri dari tujuh orang bergerak masuk ke rumah Irman.

“Waktu itu masuk tak segera tujuh-tujuhnya. Bagi-bagi tugas. Saya kebagian ke driver-nya,” kata Ardian.

(baca: KPK: Ironis, Irman Gusman Korupsi dengan Dalih Kepentingan Masyarakat)

“Driver” yg dimaksud adalah Willy yg menyetir mobil yg ditumpangi Xaveriandy dan Memi.

Ardian mengajak Willy mengobrol dan mengkonfirmasi dua keterangan yg dia mampu sebelumnya terkait rencana mereka ke sana.

“Saya tanya dia soal dugaan kami. Dia menjawab dan meyakinkan. Lalu langsung kalian tangkap,” kata Ardian.

(baca: Pengacara Irman Menolak Hadir, KPK Tetap Limpahkan Berkas ke Penuntutan)

Ardian juga masuk ke dalam rumah dan mencari Xaveriandy buat mengkonfirmasi keterangan yg dikantongi dan keterangan tambahan dari Willy.

Ia mengajak Xaveriandy mengobrol santai di luar rumah.

Mulanya, Xaveriandy menyangkal ketika dikonfirmasi soal kedatangan mereka. Obrolan sekitar 15 menit berjalan alot.

“Kemudian dia ngomong ke saya, masalahnya telah banyak. Termasuk yg di Padang, jangan ditambah yg begini-begini lah,” kata Ardian menirukan ucapan Xaveriandy.

Di ketika yg sama, Xaveriandy juga yaitu terdakwa dalam masalah terkait distribusi gula yg diimpor tanpa Standar Nasional Indonesia (SNI) itu di Kejaksaan Negeri Padang.

Akhirnya, Xaveriandy membenarkan adanya pemberian uang. Akhirnya tim penyelidik membawa Irman beserta ajudannya, Willy, Xaveriandy, Memi, dan juga anaknya ke gedung KPK.

Ardian memastikan, penyelidik memiliki keterangan yg cukup bagi melakukan tangkap tangan tersebut.

“Kami berangkat karena ada keterangan berupa komunikasi mereka. Setelah dianalisa, kalian milik kesimpulan mulai terjadi tindak pidana ini. Maka kita datang,” kata Ardian.

Dari lokasi tangkap tangan, KPK mengamankan uang Rp 100 juta yg diduga pemberian dari Sutanto kepada Irman.

Uang itu diberikan terkait pemberian rekomendasi kepada Bulog oleh Irman, sebagaimana dijanjikan sebelumnya.

Tujuannya, agar Bulog memberikan tambahan jatah distribusi gula buat Sumatera Barat.

Kompas TV Irman Gusman Gugat Praperadilan terhadap KPK

Sumber:

http://nasional.kompas.com/read/2016/10/28/16382111/cerita.penyidik.kpk.saat.mengintai.hingga.tangkap.irman.gusman

Leave a Reply