Ini Syarat Mendaki Gunung Gede Pangrango Lewat Rute Selabintana

SUKABUMI, KOMPAS.com – Pagi itu, suhu udara di kaki Gunung Gede Pangrango lereng selatan tercatat dalam alat pengukur suhu mencapai 18 derajat celcius. Lumayan dingin, buat yg memang tidak terbiasa merasakan suhu udara tersebut. Apalagi tadi malam, bulan purnama.

Kicauan dua macam burung pun saling bersahutan di salah sesuatu hutan hujan tropis pegunungan dataran tinggi tersisa di Indonesia ini. Nampaknya burung-burung itu sedang menyambut pagi. Meski sinar mentari belum menampakkan wujudnya.

Bangun pagi pun semakin malas, terlebih balutan sleeping bag (kantong tidur) yg menghangatkan selama tidur. Belum lagi balak lava terbuat polar menutup kepala, sarung tangan polar dan kaos kaki pun membungkus anggota tubuh yg kedinginan agar tetap hangat.

Di dalam rumah panggung kayu yg menjadi base camp para sukarelawan tergabung Volunteer Panthera tampaknya akan disibukkan kegiatan pagi. Salah sesuatu anggotanya telah ada yg di dapur, memasak air buat seduhan kopi.

”Ayo kami ngopi dulu, sambil kami menunggu para pengunjung yg mulai mendaki Gunung Gede berangkat,” tawar Eng Yanto kepada KompasTravel yg ikut menginap di Base Camp Volunteer Panthera di rumah panggung Pondok Polygala.

Eng Yanto ini seorang pelopor Volunteer Panthera yg juga salah seorang perintis organisasi kesukarelawanan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).

Malam itu, di Pondok Polygala (sebutan bagi rumah panggung oleh para relawan), selain tiga relawan dan sesuatu petugas, Mulyono yg kerap disapa Pak Iyong, ada empat orang pengunjung wisata minat khusus pendakian yang berasal Jakarta menginap.

KOMPAS.com/BUDIYANTO Kepala Balai Besar TNGGP Suyatno Sukandar (kiri kedua) bersama para petugasnya ketika mengecek kawasan di Resor Selabintana di Sukabumi, Jawa Barat, Senin (8/8/2016).

Mereka datang di pintu masuk pendakian ke Gunung Gede di Resort Selabintana, Sukabumi, Jawa Barat, Jumat (14/10/2016) malam. Meskipun telah mengantongi surat izin memasuki kawasan konservasi (Simaksi), mereka tetap tak direkomendasikan mendaki malam hari.

Karena pendakian gunung melalui jalur Selabintana ini memang telah tak direkomendasikan berjalan malam hari. Hal tersebut diberlakukan demi keselamatan dan kenyamanan para pengunjungnya. Kondisi sepanjang rute Selabintana menuju Alun-alun Suryakancana dan puncak gunung Gede ini masih alami.

”Dari sini hingga Alun-alun Suryakancana sebelah barat jaraknya 11 kilometer melalui jalan setapak. Waktu tempuhnya ada yg dapat tujuh jam, bahkan ada yg lebih 12 jam, semuanya tergantung fisik para pengunjungnya,” jelas dia.

Rute Selabintana ini, di antara tiga pintu masuk resmi pendakian ke Gunung Gede dan Pangrango dikenal rute yg masih alami dan jalur terpanjang. Puncak Gunung Gede 2.958 mdpl dan puncak Gunung Pangrango 3.019 mdpl bisa ditempuh dari Cibodas dan Gunung Putri di Kabupaten Cianjur serta Selabintana di Kabupaten Sukabumi.

Sabtu (15/10/2016) sekitar pukul 06.30 WIB, belasan pengunjung wisata minat khusus pendakian yang berasal Bogor dan Sukabumi datang di Kantor Resort Selabintana di komplek wisata alam Pondok Halimun (PH), Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi. Mereka berjumlah 17 orang, di antaranya lima perempuan.

Belasan wisatawan minat khusus pendakian gunung dalam sesuatu kelompok ini sudah mengantongi tiga Simaksi. Salah seorang dari mereka menyerahkan surat izin pendakian tersebut ke petugas TNGGP. Petugas bersama sukarelawan pun segera mengecek dan mencocokkan nama dan jumlah wisatawan sesuai Simaksi.

KOMPAS.COM/BUDIYANTO Pintu gerbang Balai Besar TNGGP Resort Selabintana, Sukabumi, Jawa Barat, Selasa (26/4/2016).

Sebelum diizinkan berangkat melakukan perjalanan pendakian gunung, mereka mendapatkan penyampaian keterangan keselamatan (safety talk). Di antaranya keterangan keadaan sepanjang rute, jarak tempuh, lokasi persediaan air, lokasi camp sementara, persediaan air bersih hingga peraturan selama di dalam kawasan konservasi dan diingatkan buat kembali membawa sampah.

Safety talk ini pengingat dan perlu disampaikan kepada para pengunjung buat mencegah terjadinya kecelakaan. Harapannya agar mereka dalam perjalanannya nyaman, aman dan kembali selamat. Begitu juga kawasan konservasi ini tetap lestari, tak diganggu dan tak rusak,” ujar instruktur manajemen pengembangan sumber daya manusia di sejumlah lembaga itu.

Selvy Monoarfa salah seorang wisatawan minat khusus pendakian mengapresiasi program safety talk yg disampaikan anggota Volunteer Panthera di pintu masuk Selabintana. Hal tersebut memang perlu disampaikan bagi mengingatkan para pengunjung dan sebagai pelayanan.

”Saya telah lama juga tak mendaki Gunung Gede melalui jalur Selabintana ini. Dengan disampaikannya safety talk berarti ada keterangan terbaru yg kita terima bagi melakukan pendakian sekarang ini,” kata warga Bogor itu.

Pada pendakian kali ini, lanjut dia, diikuti semuanya 17 orang, sebanyak 14 dari Bogor dan 3 dari Sukabumi. Mayoritas yg mengikuti kegiatan pendakian fun trip ini masih usia pelajar setingkat SMA, dan empat di antaranya perempuan.

”Ada dua yg baru ikut, artinya baru belajar menjadi pendaki. Dan ada juga yg telah pernah dua kali mendaki Gunung Gede ini,” ujar alumni IISIP Jakarta 1990 itu.

KOMPAS.COM/BUDIYANTO Curug Cibeureum di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) Resort Selabintana, Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu (16/4/2016).

”Persiapan cukup lama juga, terutama fisik. Saya tekankan kepada mereka karena menghadapi cuaca yg dua bulan terakhir ini cukup ekstrem. Begitu juga perbekalan dan perlengkapan, akan rain coat, tenda dome dan lainya,” imbuh dia.

Setelah mendapatkan keterangan safety talk, belasan wisatawan minat khusus pendakian gunung yg mayoritas para pelajar setingkat SMA ini segera di antar hingga titik awal rute Selabintana.

Jaraknya dari Pondok Polygala cuma sekitar 30 meter. Selanjutnya mereka harus melintasi tanjakan dengan rimbunan tanaman di awal pendakiannya.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/10/23/061200927/ini.syarat.mendaki.gunung.gede.pangrango.lewat.rute.selabintana

Leave a Reply