Kebijakan Pemerintah Di Sektor Pertanian Belum Berpihak Pada Petani

JAKARTA, KOMPAS.com – Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih mengatakan, kebijakan pemerintah terkait kedaulatan dan peningkatan kemandirian pangan ketika ini justru banyak yg tak berpihak pada petani kecil.

Menurut Henry, segala kebijakan yg dibuat tak berakar pada persoalan mendasar petani Indonesia yg sebagian besar tak memiliki tanah produksi.

Sementara sebagian tanah dikuasai perusahaan besar yg melakukan alih fungsi ke non pertanian, seperti perusahaan perkebunan sawit, karet, kehutanan dan perusahaan properti.

“Masalah mendasar petani Indonesia adalah tak milik tanah. Tanah kami sejak zaman kolonial sudah dikuasai oleh perusahaan besar. Perkebunan kelapa sawit, karet kehutanan dan properti. Upaya koreksi ini tak dilakukan,” ujar Henry ketika memberikan informasi pers peringatan Hari Tani Nasional 2016 di kantor sekretariat nasional Konsorsium Pembaruan Agraria, Pancoran, Jakarta Selatan, Sabtu (24/9/2016).

Henry menilai yg dikerjakan oleh Pemerintah ketika ini malah mendistorsi permasalahan mendasar tersebut dengan peningkatan produktivitas.

Penurunan produktivitas, kata Henry, terjadi karena petani tak memiliki tanah sendiri. Oleh karena itu distribusi pupuk, benih dan alat penunjang produksi seperti traktor bukan solusi yg tepat.

“Produktivitas menurun karena memang petani tak milik tanah maka solusinya bukan bagi-bagi pupuk dan alat penunjang produksi seperti traktor,” kata Henry.

Di sisi lain, Pemerintah juga membuat kebijakan yg dinilai mulai mematikan produksi pangan petani dalam negeri.

Kebijakan impor beras dan impor daging masih selalu diberlakukan. Sedangkan menurut Henry, selama ini tak ada kebijakan yg melindungi hasil pertanian lokal.

Hal senada juga diutarakan wakil Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Dewi Kartika. Dia menuturkan, konversi lahan pertanian ke non-pertanian semakin luas.

Mengacu pada sensus pertanian Badan Pusat Statkstik, dalam 10 tahun konversi lahan dari pertanian ke non pertanian mencapai 129 ribu hektar per tahun di segala wilayah Indonesia.

Kalaupun penggunaannya tetap di sektor pertanian, kata Dewo, lahan tersebut dikuasai oleh perusahaan skala besar.

KPA mencatat terdapat 2.400 badan usaha pertanian skala besar. Artinya peningkatan produktivitas pangan justru diarahkan melalui pembangunan korporasi pertanian skala besar, bukan ke rumah tangga para petani skala kecil.

“Saya melihat bukan kedaulatan dan kemandirian pangan yg mulai dibangun, namun berupaya meningkatkan produktivitas pangan dengan membangun industri pangan berskala besar,” kata Dewi.

“Selama masih ada kebijakan impor pangan, monopoli penyediaan benih dan pupuk oleh korporasi berarti memang tak ada keseriusan bagi membangun basis ekonomi kerakyatan sebagai produsen pangan utama,” tambahnya.

Sumber:

http://nasional.kompas.com/read/2016/09/25/06000051/kebijakan.pemerintah.di.sektor.pertanian.belum.berpihak.pada.petani

Leave a Reply