“News” Atau “Hoax”: Kali Ini, Bangsa Indonesia Bersyukur Kabar Terkait Habibie Itu “Hoax”

JAKARTA, KOMPAS.com – Di usianya yg ke-80, Presiden RI ke-3 Bacharuddin Jusuf Habibie dikabarkan meninggal dunia. Kabar itu santer didistribusikan dari jaringan percakapan, terutama dari grup-grup WhatsApp.

Menyangkut nama besar, tentu berita utama terkait beliau harus diverifikasi betul. Kita bersyukur bahwa media massa tidak cepat-cepat gegabah memberitakan kabar bohong (hoax) itu begitu saja.

Dalam perkara ini, akun media sosial masih menjadi peralatan utama dan tercepat dalam upaya memverifikasi sebuah kabar. Kita beruntung memiliki The Habibie Center yg tampak aktif di media sosial, terutama di Twitter, Facebook, dan Instagram.

Upaya yg dikerjakan akun seperti @anndoesu, yg berusaha memverifikasi kebenaran sebuah kabar melalui media sosial, patut kami hargai. Cara seperti ini menjadi modal dasar bagi tetap kritis dan tetap menjaga kewarasan buat menanggapi sebuah kabar.

Jangan sampai, saat mendapatkan kabar dari grup WhatsApp, kemudian kalian berlomba-lomba buat mengabarkan berita yg belum tentu benar.

Beberapa akun di media sosial, berbekal kabar dari grup WhatsApp, sempat mengucapkan bela sungkawa dan berbagi kabar bohong tersebut, cuma karena ingin menjadi yg tercepat bagi mengabarkan peristiwa.

Akun @habibiecenter di Twitter dan juga akun The Habibie Center di Facebook tampak cekatan dan santun menjawab berbagai pertanyaan pengguna media sosial lain.

“Alhamdulillah Bapak B.J. Habibie dalam kondisi sehat walafiat. Saat ini beliau sedang di Jerman. Terima Kasih atas perhatiannya,” begitu pesan yg disampaikan @habibiecenter di Twitter.

“Berarti sms yg beredar tentang info wafatnya Bapak Habiebie adalah hoax?” begitu akun @maslumi menanggapi.

 

 

Sejak awal mendengar kabar berita itu, banyak orang yg segera “siaga” dan bersiap-siap buat mengecek apakah kabar berita itu berita benar ataukah cuma hoax. Kita juga pantas bersyukur, sejak awal segala berharap berita itu hoax, dan doa itu terkabulkan.

Kabar yg betul adalah, ayah Erick Thohir merupakan Muchamad Thohir atau dapat dikenal sebagai Teddy Thohir, meninggal dunia. Jenazah disemayamkan di Jalan Patra Kuningan, Kuningan, Jakarta Selatan, yg berdekatan dengan rumah Habibie. Entah disengaja atau tidak, pada akhirnya kabar yg tersiar menyampaikan BJ Habibie yg meninggal dunia.

Kenyatannya, hingga kini, BJ Habibie masih sehat walafiat. Melalui akun Instagramnya, habibiecenter menampilkan foto BJ Habibie yg sedang jalan-jalan di Jerman. Habibie tampak segar bugar.

“Alhamdulillah Bapak BJ Habibie sehat walafiat. Kemarin beliau jalan2 di Jerman. Beliau di Jerman buat mengatakan dua pidato di Hamburg dan Muenster. Terima kasih atas perhatiannya,” kata akun habibiecenter  di Instagram.

Habibie kelihatan mengenakan jaket hitam dan bertopi. Senyum khas Habibie tampak mengembang. Habibie masih mengajar dan masih jalan-jalan di Jerman. Jadi, kabar Habibie meninggal dunia jelas yaitu kabar hoax.

Hoax ini tersebar secara berantai di obrolan tertutup melalui grup-grup WhatsApp dan juga SMS, bukan melalui media sosial, bukan pula melalui media masa. Melimpahnya kata kunci “Habibie Meninggal Dunia” di internet cuma terkait upaya banyak orang di media sosial maupun di media massa bagi memverifikasi kabar tersebut.

Sebelumnya, pada 2 Desember 2014 atau beberapa tahun yg lalu, BJ Habibie juga dikabarkan meninggal dunia. Sama seperti kabar hari ini, Habibie waktu itu sehat walafiat. Waktu itu, akun Twitter punya salah sesuatu pengurus The Habibie Center juga menjadi salah sesuatu cara bagi memverifikasi kabar bohong.

 

 

Pelajaran berharga

Kali ini, kami bersyukur berita itu hoax. Orang-orang kembali mendoakan Habibie agar berumur panjang dan sehat selalu.

Kabar soal BJ Habibie ini harus dapat menjadi modal sosial buat kalian buat saling memverifikasi, buat terus kritis terhadap seluruh macam berita yg sumbernya tak jelas. Kabar duka soal BJ Habibie ini jelas memiliki langgam yg khas sebagai kabar hoax, merupakan tidak memiliki sumber rujukan terpercaya.

Banyak kabar seperti itu di grup-grup WhatsApp. Jelang pilkada serentak 2017, keterampilan digital bagi tetap kritis dan berusaha memverifikasi kabar sangat diperlukan. Karena itu, curiga lalu sebelum mempercayai kabar, verifikasi dahulu sebelum menyebarkannya.

Sumber:

http://nasional.kompas.com/read/2016/11/01/15042131/.news.atau.hoax.kali.ini.bangsa.indonesia.bersyukur.kabar.terkait.habibie.itu.hoax.

Leave a Reply