Senin Ini, Siti Fadilah Supari Jalani Persidangan Perdana Praperadilan

JAKARTA, KOMPAS.com – Mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mulai menjalani sidang perdana praperadilan yg diajukan melawan Komisi Pemberantasan Korupsi pada Senin (10/10/2016).

Ia menggugat status tersangka yg disematkan padanya sejak 2009.

“Sidang lagi hari Senin, setelah sidang sebelumnya KPK tak datang,” kata Kepala Humas Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, I Made Sutrisna ketika dikonfirmasi, Senin.

Kepala Bagian Pemberitaan dan Publikasi KPK, Priharsa Nugraha mengatakan, pihaknya bersiap mendengarkan gugatan itu.

KPK, kata dia, juga sudah menyiapkan jawaban atas poin-poin keberatan yg disampaikan. “Nanti kita mulai jawab gugatannya dalam sidang praperadilan,” ujar Priharsa.

Siti yaitu tersangka masalah dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan buffer stock buat kejadian luar biasa tahun 2005.

Status tersangka disematkan pada mantan anggota Dewan Pertimbangan Presiden ini pada 2009.

Namun, hingga kini penyidikannya masih berlarut. Bahkan, Siti belum ditahan oleh KPK meskipun sudah lama jadi tersangka.

Priharsa mengaku KPK butuh waktu lama bagi menyidik tuntas perkara tersebut. “Memang butuh proses yg cukup lama karena ini berkaitan dgn kerugian keuangan negara yg butuh penghitungan cermat,” kata Priharsa.

(Baca: KPK Benarkan Siti Fadilah Gugat Penetapan Tersangkanya via Praperadilan)

Kasus ini yaitu limpahan masalah dari kepolisian. Ketika masalah ini ditangani kepolisian, Siti juga telah ditetapkan menjadi tersangka.

Menurut KPK, perkara dugaan korupsi buffer stock ini berbeda dari empat masalah terkait pengadaan di Departemen Kesehatan pada 2006 dan 2007.

Dalam perkara proyek Depkes selama 2006 dan 2007 itu, mantan Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medik Kementerian Kesehatan Ratna Dewi Umar divonis lima tahun penjara, ditambah denda Rp 500 juta subsider tiga bulan kurungan.

 

 

Sumber:

http://nasional.kompas.com/read/2016/10/10/08004231/senin.ini.siti.fadilah.supari.jalani.persidangan.perdana.praperadilan.

Leave a Reply