Untung Nakamura Tidak Harakiri Di Morotai


KOMPAS.com
– Duduk bersimpuh, seorang pemuda meletakkan surat wasiat di lantai. Ia kemudian melepaskan pakaian dan mengambil pedang katana buat dihunjamkan ke sisi perut, dahulu terdiam dalam posisi itu sampai mati.

Betul, itu adalah penyederhanaan prosesi harakiri atau seppuku—bunuh diri khas Jepang—yang lebih kadang dikerjakan para samurai. Biasanya orang yg memilih seppuku sudah kehilangan kehormatan akibat melakukan kejahatan, aib, atau merasa gagal menjalankan tugas.

Pada akhir Perang Dunia II harakiri juga menjadi pilihan untuk tentara Jepang, sebagai pasukan yg kalah perang. Mereka merasa lebih baik mati terhormat—berdasarkan budaya Jepang—daripada menjadi tawanan musuh atau pulang dengan kekalahan.

Namun, hal itu tidak dikerjakan Teruo Nakamura, prajurit Jepang yg berperang di Morotai, Maluku Utara. Pulau ini yaitu salah sesuatu tempat strategis yg diperebutkan Jepang dan Sekutu selama Perang Dunia II.

Pada 15 September 1944 pasukan Sekutu menyerang tentara Jepang di Morotai. Singkat cerita, dengan jumlah pasukan yg lebih banyak, Sekutu menaklukkan Jepang dan menjadi penguasa baru di sana.

Saat itu, Nakamura memilih kabur dan berlindung di pedalaman hutan Morotai. Selama 30 tahun sesudahnya, dia tak tahu bahwa rezim dan zaman telah berubah. Bahkan dia tak tahu bahwa Perang Dunia II sudah lama usai.

Konon menurut cerita warga setempat, Nakamura tinggal di gubuk kayu beratap rumbia ukuran 2×2 meter persegi. Ia tidur beralaskan kayu melengkung yg rencananya juga mulai dia gunakan bagi membakar diri bila telah merasa benar-benar tidak berdaya di tengah hutan.

Lucky Pransiska Muhlis Eso menyusuri tempat persembunyian prajurit Jepang, Teruo Nakamura, di Air Terjun Nakamura di Desa Dehegila, Morotai, Maluku Utara, Minggu (17/7). Tempat ini dinamakan Air Terjun Nakamura sesuai nama prajurit Jepang yg bersembunyi dari tentara Amerika Serikat pada masa Perang Dunia II.

“Gubuk itu lokasi persembunyian Nakamura, “ ujar Muhlis Eso yg sehari-hari mencari benda-benda peninggalan Perang Dunia II di Morotai saat dihubungi Kompas.com, Kamis (10/11/2016).

Keberadaan Nakamura baru terungkap pada akhir 1974. Itu pun tidak sengaja. Seorang warga Desa Pilowo bernama Luther Goge yg melihat Nakamura di hutan, melaporkan hal itu ke kepolisian setempat.

Usai Nakamura tertangkap dan hendak dipulangkan ke Jepang, barulah terungkap bahwa dia bukan warga negara Jepang. Nakamura ternyata asli orang Taiwan yg ketika Perang Dunia II dimasukkan ke Unit Sukarela Takasago dari Angkatan Darat Kekaisaran Jepang.

Mungkin juga itu alasan kenapa Nakamura tak melakukan harakiri layaknya prajurit Jepang yg kalah berperang.

Jadi lekat dengan Morotai

Kisah nyata Nakamura tidak berhenti pada 1974. Pelarian dan persembunyiannya justru menginspirasi banyak orang. Belakangan, Nakamura malah jadi salah sesuatu ikon wisata Morotai.

Untuk mengenang kisah di atas, Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai membangun Monumen Teruo Nakamura di Desa Deheglia. Wisatawan pun dapat menelusuri jejak pelarian Nakamura dengan mengunjungi monumen itu.

KOMPAS IMAGES/ANDREAN KRISTIANTO Monumen Teruo Nakamura di Morotai, Maluku Utara, Jumat (14/9/2012). Teruo Nakamura adalah suku asli Taiwan yg direkrut menjadi tentara sukarela kekaisaran Jepang pada perang dunia ke 2, Sebagai pasukan khusus perang gerilya bagi mempertahankan kepulauan Morotai dari gempuran tentara Sekutu.

Namun, bila ingin merasakan sensasi lebih, Anda dapat berkunjung ke air terjun Nakamura. Lokasinya masih berada di Desa Deheglie, tetapi di tengah hutan. Di sana Anda mampu membayangkan perjuangan Nakamura bertahan dan menjalani hidup.

“Kalau tempat istirahat Nakamura ada di batu alam yg bernama Kokota Rifer. Posisinya ada di atas air terjun dan dia kadang bakar udang dan ikan di situ.” papar Muhlis Eso.

Tak hanya tempat istirahat, Muhlis pun kembali bercerita, Kokota Rifer adalah bukti dahsyatnya serangan tentara Sekutu di Morotai.

“Dua lubang di Kokota Rifer itu adalah dampak penyerangan besar-besaran tentara sekutu ke Jepang selama tiga hari berturut-turut,“ ujar Muhlis.

Menurut Muhlis, selain Nakamura diduga ada juga tentara Jepang yang berasal Taiwan yg ikut bersembunyi bersamanya. Nama prajurit itu adalah Murita.

“Sampai ketika ini keberadaanya belum ditemukan. Ada kabar tetapi belum terbukti kebenarannya kalau dia telah meninggal,” kata Muhlis.

Tentu saja, keindahan air terjun Nakamura tidak hanya karena nama yg disematkan. Pola aliran air dari atas ke bawah yg tidak beraturan membuat objek wisata alam itu kelihatan unik dan mempesona.

Belum lagi keadaan air yg jernih dan menyegarkan seakan menggoda para wisatawan bagi menceburkan diri ke dalam air. Air terjun tersebut juga yaitu sumber pasokan air bersih Morotai.

Selain Monumen Teruo Nakamura dan air terjun Nakamura, Morotai masih milik objek wisata alam historis lain. Contohnya, Pulau Zum Zum dengan Monumen Jenderal MacArthur—panglima pasukan perang Sekutu.

(Baca juga: Dari “Nafsu” Jenderal MacArthur sampai Pasir Merah Jambu Ada di Sini!)

Kemudian ada pula Pulau Dodola, Kolorai, dan Matita yg milik pemandangan bawah laut laiknya museum. Seperti diketahui di perairan laut ketiga pulau itu ada spot-spot diving bernuansa Perang Dunia II karena menyimpan bangkai peralatan dan kendaraan tempur sisa perang.

Sementara itu, dari segi wisata bahari pulau paling utara di Indonesia malah milik dua pulau kecil dan pantai berpasir putih yg menarik buat wisatawan.

Berbenah menyambut tamu

Dengan berbagai potensi wisata yg dimiliki Morotai, pemerintah kemudian memasukannya ke dalam sepuluh destinasi prioritas. Menteri Pariwisata Arief Yahya pun percaya Morotai mulai berkembang pesat.

KOMPAS.com/YAMIN ABD HASAN Patung Jenderal Douglas Mc Arthur di Pulau Zum-zum, Kabupaten Pulau Morotai

“Saya yakin, tak lama lagi Morotai mulai hidup dan menjadi salah sesuatu destinasi kelas dunia yg mampu diandalkan bagi menarik wisatawan mancanegara (wisman),” jelas Arief Yahya seperti dimuat Kompas.com, Rabu (1/6/2016).

Adapun buat mewujudkan keinginan itu pemerintah melalui PT Morotai Jababeka mulai mengembangkan kawasan bisnis secara bertahap di sana. Rencananya rumah kelas menengah dan hotel mulai dibangun pada tahap awal.

Setelah itu, pemerintah juga berencana membangun tempat pariwisata beserta infrastrukturnya dan sekolah bagi memasok sumber daya alam di sana. Jababeka berencana menggandeng investor yang berasal Taiwan bagi memuluskan rencana tersebut.

“Nantinya Pulau Morotai mampu dikembangkan menjadi Singapura-nya kawasan Timur Indonesia,” papar advisor pengembang Jababeka Morotai, Basuri T Purnama, seperti dikutip Kompas.com, Rabu (1/6/2016).

Pokja 10 Top Destinasi Prioritas Pulau Morotai, Arie Suhendro menambahkan, pengembangan transportasi udara di sana telah kelihatan dampaknya. Peningkatan frekuensi penerbangan ke Morotai menjadi bukti.

“Dari tak ada penerbangan ke Morotai, sejak 27 April 2016 frekuensi penerbangan menjadi beberapa kali per hari dengan kapsitas 72 seat. Adapun Wings Air sebagai maskapai yg digunakan,” ujar Arie.

Tak cuma sampai di situ, lanjut Arie, pemerintah memikirkan pula pengembangan bandara. Menurut dia, Morotai wajib milik bandara internasional dengan panjang runway—landasan pacu—minimal 3,000 meter, bagi menjadi destinasi kelas dunia.

Bersamaan, sejumlah BUMN dan instansi yang lain mulai fokus mengembangkan sektor lain, seperti listrik, air, pemukiman, dan telekomunikasi. Beberapa sektor itu yaitu prioritas teratas pembangunan di Morotai.

“PLN sudah memaparkan rencana memenuhi listrik di Morotai ketika meeting dengan Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat di Ternate pada 27 Mei 2016. Untuk air dan pemukiman, Ditjen Cipta Karya sudah survei ke Morotai pada 26 Mei 2016 dan ditindaklanjuti dengan Rakor di Ternate pada 27 Mei 2016.

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA Pulau Dodola di Morotai, Maluku Utara, Sabtu (16/7/2016). Saat air laut surut, Pulau Dodola tersambung dan mampu dilalui manusia.

Adapun buat telekomunikasi sedang dikerjakan peningkatan jaringan di Morotai,” papar Arie.

Tentu saja, seluruh upaya itu tidak mulai serta merta menghadirkan wisatawan, apalagi dari mancanegara. Butuh dukungan dan uluran tangan segala kalangan, termasuk Anda, bagi menjadikan Morotai dan destinasi wisata Indonesia benar-benar mendunia.

Nah, buat Anda yg mau turun tangan, bagikan saja kisah-kisah perjalanan wisata Anda ke destinasi nasional, misalnya lewat media sosial. Jangan lupa memasang tanda pagar (tagar) atau hastag #ceritadestinasi pada setiap unggahan cerita tersebut.

(Baca juga: Menziarahi Tanah Batak dari Legenda Sigale-gale)

Kalau Anda ingin membagikan cerita itu ke Twitter dan Instagram, cantumkan @ceritadestinasi pada unggahan cerita. Namun, kalau Anda ingin bercerita panjang lebar maka fan page Facebook Cerita Destinasi mampu jadi pilihan yg tepat.
Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2016/11/11/215100927/untung.nakamura.tidak.harakiri.di.morotai

Leave a Reply